Jumat, 21 Desember 2012

Resensi Buku



Genius Membawa Keberuntungan

Judul Buku          : Rahasia Radit
Pengarang           : Syarafuddin Sulaiman, Izwan Wahab, Zamri Mohamad           
Penerbit               : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit                   : Maret 2011
Ukuran                 : 12.5 x 19 cm 
Tebal                    : 168 halaman 
Harga                   : Rp. 40.000,-

Ilustrasi Cover : Buku ini memiliki background warna hijau. Dengan gambar pemeran dalam cerita ini, yaitu seorang anak sekolah yang terlihat cerdas sedang dibuntuti oleh 2 temannya. Judul buku dan pengarangnya ditulis dengan jelas di bagian atas dan bawah cover. Sedangkan lambang Gramedia ada di sudut kanan atas menunjukkan penerbit. Dan tulisan “Geng Genius” yang menyimbolkan bahwa cerita ini bagian dari serial tersebut.
            Buku ini adalah karya trio dari penulis – penulis novel remaja. Yaitu Syarafuddin Sulaiman, Izwan Wahab, Zamri Mohamad. Mereka bertiga bekerja sama untuk menyelesaikan novel serial Geng Genius. Buku ini adalah karya kesekian dari masing – masing pengarang. Namun untuk karya yang bertiga, buku ini adalah hasil yang pertama.
            Novel serial Geng Genius berjudul Rahasia Radit ini menceritakan tentang Radit dan keluarganya yang baru saja pindah dari kota ke kampung. Radit dan Nina, adiknya harus berusaha keras untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Hal itu membuat Radit menjadi merasa bosan. Walaupun Nina mengajaknya jalan – jalan tetap saja hal itu tak mampu mengusir rasa bosan dan rasa kangen Radit pada suasana daerah tempat tinggalnya dulu. Radit terkenal anak yang baik dan Nina anak yang ramah.
            Radit dan Nina masuk ke sekolah baru. Radit disambut baik oleh pak Sulaiman wali kelas barunya. Kemudian Radit menuju kelas barunya dan pak Sulaiman memperkenalkannya kepada teman-teman baru Radit. ada kuranh lebih 30 siswa di kelas itu. Hari ini ada rapat guru, jadi tidak ada pelajaran sampai istirahat pertama. setelah pak sulaiman keluar kelas, tiba-tiba kelas menjadi ramai. Murid-murid beranjak dari kursi masing-masing dan mengerumuni Radit. Tanpa Radit sadari, di pojok kelas ada dua anak yang memandang tajam ke arahnya yaitu Toni dan Sigit. Mereka merasa bahwa Radit adalah anak yang cuek sehingga mereka tidak suka kepada Radit. Bel tanda istirahat berbunyi. semua murid bergegas keluar kelas. kebanyakan menuju kantin, tapi ada jugavyang ke koperasi sekolah. Beberapa murid ada yang pergi ke toilet. Radit menuju ke kantin. Dia tidak tahu bahwa dia menduduki kursi kusus yang hanya boleh diduduki oleh Toni dan Sigit. Toni dan Sigit melihat hal tersebut. Sigit menunjuk ke arah kantin, tepat ke arah Radit yang sedang duduk.Wajah Toni tampak berang, dia mengepalkan tangan kanannya dan melangkah cepat menuju Radit. Sigit tidak mau ketinggalan, dia mengekor dibelakang Toni. Tiba-tiba Toni mendorong Radit kuat-kuat. Hampir saja radit terjatuh dari tempat duduknya. Untung tangan kirinya sempat menopang tubuhnya. Radit terdiam, suasana kantin juga ikut sunyi, semua memandang ke arah Radit dan Toni. Sigit yang melihat kejadian itu diam saja, dia hanya tersenyum. Dia puas melihat Radit dibentak dan di dorong oleh Toni. Toni tampak semakin geram melihat dorongannya tidak berhasil menjatuhkan Radit. Dia mendekati Radit dan menarik dasi Radit. Toni siap menyerang Radit. Kali ini tangannya mengepal, siap diayunkan ke arah Radit. Radit terkejut, dia hanya memandang Toni tanpa ada reaksi ingin mempertahankan diri. Pak Sulaiman melihat kejadian itu dan memberhentikan tindakan Toni. namun, karena dia mengayunkan tangannya begitu cepat, perintah berhenti itu gagal menghentikan ayunan tangan Toni. Dagu Radit berdarah terkena cincin besi di tangan Toni. Tampaknya bapak ibu guru beramai-ramai menuju kantin setelah rapat berakhir. Pak Sulaiman memperingatkan Toni. Akan tetapi wajah Toni tidak berubah sedikit pun. dia memandang ke arah Radit. Lebih tajam, lebih garam. Rencana balas dendamnya tampaknya belum berakhir.
            Hari berikutnya adalah hari Rabu dengan pelajaran pertama adalah pendidikan jasmani. Radit sudah mengganti seragamnya dengan baju olahraga. Dia sudah siap ke lapangan, tapi tiba-tiba ada yang memanggil namanya. Anak yang memanggilnya itu berkata bahwa pak Haris guru olahraga mnyuruh Radit mengambil bola di gudang. Anak tersebut adalah suruhan Toni dan Sigit untuk mengerjai Radit. Hari ini pelajaran olahraga di laksanakan di kelas. Radit dikunci di gudang oleh toni dan Sigit. Tapi Radit bisa keluar dari gudang itu dengan menggunakan kecerdasannya menerapkan ilmu sains tanpa merusak atau membobol pintu gudang. Radit menuju kelas mendahului Toni dan Sigit melewati jalan pintas. Toni dan Sigit terheran kalau Radit bisa keluar dari gudang tanpa merusak pintu gudang dan sampai di kelas mendahului meraka. Toni dan Sigit menganggap radit anak ajaib.
            Toni dan sigit belum puas mengerjai Radit. Hari berikutnya Toni dan Sigit berencana menghajar Radit. Rencana mereka gagal karena mereka dikejar oleh anjing galak. Mereka lari ketakutan. Dari jauh mereka melihat Radit. Lalu mereka mempunyai niat busuk untuk lari kebelakang Radit agar anjing yang mengejarnya menerkam Radit. Anjing tersebut benar-benar-benar menghampiri Radit. Tapi untunglah Radit mempunyai peluit untuk menjinakkan anjing. Peluit itu hanya bisa didengar oleh anjing karena peluit tersebut mengeluarkan bunyi ultrasonik yng tidak dapat didengar oleh manusia. Sigit dan Toni kembali terheran kenapa Radit bisa menjinakkan anjing tersebut dengan semudah itu. Mereka tambah menganggap bahwa Radit anak ajaib dan mempunyai rahasia yang besar.
            Radit menuju ke sebuah meja. Tanpa sepengetahuannya Toni dan Sigit mengikutinya. Iseng-iseng Radit membawa sebuah magnet dan menaruhnya dibawah meja. diatas meja tersebut diletakkan penggaris besi, dan dia menggerakkan magenet itu sehingga penggaris diatasnya berputar seseuai  gerakan magnet. Toni dan Sigit melihatnya dan menganggap bawa radit dapat menggerakkan benda tanpa menyentuhnya. Tambah keyakinan mereka akan rahasia dan kemampuan ajaib Radit.
            Di tengah jalan mereka menghadang Radit. Mereka menyuruh Radit melihat akan langit dan menyebutkan sekarang jam berapa. Jika salah Radit akan dihajar. Radit bingung. Tanpa sengajaRadit melihat jam dinding di kelas dan Radit dapat menyebutkan jam dengan tepat. Toni dan Sigit heran, Rahasia apa sebenarnya yang ada pada Radit.
            Dirumah, Radit merasa bersalah karena dia telah membu dinding kat Toni dan Sigit salah paham terhadapnya. Radit sebenarnya tidak memiliki kekuatan ajaib. Dia hanya menerapkan ilmu sains, dan dapat menyebutkan jam dengan tepat karena melihat jam di dinding kelas.
            Toni dan Sigit merasa bersalah telah menerjai Radit. Radit juga merasa bersalah telah membut mereka salah paham. Lalu Radit mengundang mereka berdua ke rumah untuk menjelaskan semua rahasia kenapa Radit dapat melakukan semua yang mereka anggap ajain tersebut. Toni dan Sigit menghadiri undangan Radit. Radit menjelaskan semuanya. Toni dan Sigit meminta maaf kepada Radit, begitu pula sebaliknya. Akhirnya mereka bertiga berteman dan tidak ada permusuhan lagi.
            Kelebihan buku ini dapat dilihat dari cover yang menarik dan kertas yang digunakan bukan kertas buram seperti layaknya novel – novel ramaja. Novel Rahasia Radin ini mengguna kertas cerah sehingga menimbulkan kesan elite pada buku ini. Pada bagian cover pun pembaca dapat menemukan bagian kecil yang dapat ditekuk hingga dapat dijadikan pembatas buku. Jadi kita tidak perlu repot – repot mencari pembatas buku lagi.                           Dari segi ceritanya cukup menarik. Alurnya juga mudah dipahami. Cerita yang disuguhkan penulis seperti terjadi dalam kehidupan sehari – hari, jadi pembaca lebih dapat mengarahkan imajinasinya. Namun sayangnya banyak terdapat penjelasan – penjelasan terutama mengenai rumus – rumus mata pelajaran yang sedang diaplikasikan kurang dapat dimengerti. Harusnya penulis dapat mengubah gaya bahasa yang digunakan dalam menjelaskan teori – teori ataupun rumus – rumus yang digunakan menjadi lebih santai lagi. Sehingga pembaca jadi lebih tertarik untuk mengerti dan mungkin mencobanya.
            Pesan moral yang dapat diambil pembaca melalui novel ini adalah kita harusnya bisa menyikapi keadaan yang sedang kita alami dengan lebih bijaksana. Jangan hanya meneyerah pada keadaan. Jika kita mampu menguasai keadaan yang kurang menyenangkan yang sedang terjadi, bukan tidak mungkin keadaan tersebut akan berbalik seratus delapan puluh derajat lebih baik dari yang kita harapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Widget-Animasi-Blog
Cool Dark Blue Pointer Glitter